Sudut Pandang Soal Tato
DARI SUDUT PANDANG PARA TATTOO ARTIST:
Sebagian artis tatto yang ada di Jawa Timur, khusunya Surabaya, mempunyai kesamaan pendapat seputar tatto yang erat hubungannya dengan mata pencaharian mereka. Karena pekerjaan yang mereka tekuni menyangkut bidang seni, maka terkadang penghasilan yang mereka dapat pun tidak tetap atau bergantung pada kondisi pasar. Tapi sepertinya itu bukan jadi alasan untuk mereka meninggalkan profesi sebagai artis tattoo. Seperti “Sis” salah satu artis tattoo yang berumur 30 tahun, sudah berkeluarga dan mempunyai tiga orang anak. Mulai menekuni bidanga seni tattoo pada tahun 2006 – 2007, yang memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai atau karyawan salah satu perusahaan swasta dan lebih memilih menjadi artis tattoo. Saat ditanya apakah profesi ini dapat menyukupi kebutuhan hidup, “ ya, bisa dilihat sekarang, saya masih bisa menyukupi kebutuhan hidup keluarga saya, dengan tiga orang anak sekalipun”, dengan kemantapannya tersebut “Sis” mencoba menyakinkan. Berawal dari hobi menggambar sampai akhirnya ingin mengekspresikan ide untuk temannya, “Sis” memilih profesi ini yang sekarang menjadi profesi tetapnya. Masih banyak masyarakat menganggap pekerjaan ini berhubungan erat dengan hal-hal negatif tidak menggoyahkan bakat seni yang ada. “Sis” yang lebih sering menjalankan profesi sebagai artis tattoo di daerah Jembatan Mer, dengan hanya beralaskan karpet tipis. Anggapan tentang baik buruknya tattoo untuk kesehatan dilihat dari kondisi alat tattoo sebelum digunakan, dan kesiapan mental konsumen itu sendiri tidak kalah penting. Pendapat ini tidak beda jauh dengan “Awan” yang juga seorang artis tattoo dan mendalami profesi ini pada tahun 2002, studio tattoonya beralamatkan di Bendul Merisi I Utara / 27 Surabaya. “Awan” yang sempat menempuh sekolah khusus tattoo di Bandung juga menyebutkan baik buruk tattoo berada pada pra dan pasca tattoo, terutama saat proses penatoan, seperti jarum dsb. “awan” sangat yakin akan profesinya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, “apalagi sekarang masyarakat sudah bisa menerima dan menjadi penggemar tattoo” menurutnya. Profesi ini berawal dari mendesain tattoo untuk temannya, dan membuat mereka percaya akan hasil desainnya. Untuk menjadi artis tattoo, modal dasar yang harus dimiliki adalah kebisaan menggambar.
DARI SUDUT PANDANG PARA PEMINAT TATTOO:
Anggapan-anggapan masyarakat tentang orang bertattoo sangat beragam, tapi untuk para konsumen tattoo atau penikmat tattoo itu bukan suatu ukuran bagi mereka untuk menghiasi tubuhnya dengan tattoo. Tidak hanya itu mereka berpendapat agar bisa mengekspresikan diri mereka. Rendy, 22 tahun, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, mempunyai tattoo sejak duduk di kelas dua SMA. “ karena saya ingin tubuh saya dijadikan kanvas hidup, dan ingin menjadi orang-orang minoritas”, jawab Rendy saat ditanya mengapa ingin dan efek setelah di tattoo. Selain itu dia juga ingin mengabadikan kisah hidupnya di bagian tubuhnya dengan tattoo, begitu juga dengan Jowy, 22 tahun, Graphic Designer,” karena, gambar yang saya tanamkan dalam tubuh saya memiliki arti dan juga filosofi yang ingin saya bawa sampai akhir hayat.” Jawab Jowy ketika diberi pertanyaan yang sama dengan Rendy. Jowy mengaku memiliki tattoo sejak lulus SMA, kesukaannya terhadap sesuatu yang mempunyai nilai seni membuatnya tertarik untuk membuat tattoo di tubuhnya, menurutnya tattoo adalah seni yang lain jika dibandingkan dengan seni yang lain, karena sebagian besar seni memakai media-media lain yang bisa dihapus atau diganti, sedangkan tattoo sangat sulit sekali untuk dihapus apalagi diganti medianya. Ketika ditanya kepedulian terhadap opini masyarakat terhadap orang yang bertattoo Jowy menjawab “ Relatif, kebanyakan peduli, tapi tergantung seberapa jauh orang lain yang berpendapat negative itu bisa diajak diskusi.” Dalam pendapatnya ini Jowy tetap menghargai perbedaan pendapat yang ada di masyarakat, antara yang pro dan kontra. Beda dengan pendapat Tunggul, 28 tahun, karyawan swasta, Tunggul lebih memilih tidak peduli dengan opini masyarakat yang ada. “Saya nggak peduli, selama hidup saya lurus-lurus saja dan tidak melakukan tindak criminal, saya tidak peduli.” Tunggul menghiasi tubuhnya sejak duduk di kelas satu SMA, saat itu dia hanya coba-coba mengabadikan kenangan, ekspresi dan di beranggapan,” setiap orang mempunyai kenangan yang berbeda, yang ingin di abadikan.” Mengekspresikan identitas, menjadi salah satu tujuan Tunggul memiliki tattoo, meskipun terlihat serupa pasti tak sama. Ketiga orang konsumen tattoo di atas memiliki pendapat yang sama ketika ditanya “ apa efek setelah di tattoo?”, secara garis besar mereka merasakan sakit, gatal tapi semua itu “ bikin nagih!”
DARI SUDUT PANDANG MASYARAKAT:
“ Tattoo!” Banyak perbedaan opini masyarakat tentang yang satu ini. Meskipun sudah banyak yang meyakini bahwa tattoo termasuk dalam seni, tapi itu tidak dapat menghapus pikiran masyarakat yang tidak menyukai tattoo, seperti Soedarji, 75 tahun, Tokoh Masyarakat, yang tetap beranggapan bahwa “ Saya tidak suka, orang bertatto lebih terkesan seperti penjahat, maling dan terkesan seperti preman atau orang nggak bener.” saat dimintai penilaian terhadap orang yang bertatto. Meskipun meyakini tattoo itu bagian dari seni gambar tapi Soedarji tetap dengan pemikirannya yang kontra terhadap tattoo. Lain halnya dengan Wulyoadi, 46 tahun, Karyawan Swasta, saat ditanya tentang penilaiannya terhadapa orang bertatto “ Biasa-biasa saja, karena bagi saya tattoo itu ekspresi orang-orang yang suka seni, tapi saya hanya suka melihat saja, apalagi sebagai seorang muslim tidak boleh memakai tattoo, karena tidak dapat sholat.” Selain itu, tattoo juga bisa menyebabkab penyebaran virus HIV. Wulyoadi termasuk masyarakat yang biasa-biasa saja dalam menanggapi tentang tattoo tersebut. Berbeda dengan Aryan JP,23 tahun, mahasiswa Film Maker (kameramen dan script writer) Unair’05, yang tertarik untuk memiliki tattoo di tubuhnya, “ senang melihat orang bertatto, berani mengekspresikan dirinya, yang paling penting berani sakit.” Penilaiannya terhadap orang bertattoo. Saat ditanya tentang adakah pengaruh tattoo terhadap kesehatan, “ Ada, tergantung alat yang dipakai dan prosesnya.” Pengaruh tattoo terhadap kesehatan, terletak pada kesterilan alat dan jenis tinta yang digunakan. Sebagian besar masyarakat sudah memahami bahwa tattoo termasuk dalam bagian seni hanya saja proses pembuatannya masih belum bisa dikatakan seni yang terkadang cenderung menyakiti diri sendiri.
Sebagian artis tatto yang ada di Jawa Timur, khusunya Surabaya, mempunyai kesamaan pendapat seputar tatto yang erat hubungannya dengan mata pencaharian mereka. Karena pekerjaan yang mereka tekuni menyangkut bidang seni, maka terkadang penghasilan yang mereka dapat pun tidak tetap atau bergantung pada kondisi pasar. Tapi sepertinya itu bukan jadi alasan untuk mereka meninggalkan profesi sebagai artis tattoo. Seperti “Sis” salah satu artis tattoo yang berumur 30 tahun, sudah berkeluarga dan mempunyai tiga orang anak. Mulai menekuni bidanga seni tattoo pada tahun 2006 – 2007, yang memilih meninggalkan pekerjaannya sebagai pegawai atau karyawan salah satu perusahaan swasta dan lebih memilih menjadi artis tattoo. Saat ditanya apakah profesi ini dapat menyukupi kebutuhan hidup, “ ya, bisa dilihat sekarang, saya masih bisa menyukupi kebutuhan hidup keluarga saya, dengan tiga orang anak sekalipun”, dengan kemantapannya tersebut “Sis” mencoba menyakinkan. Berawal dari hobi menggambar sampai akhirnya ingin mengekspresikan ide untuk temannya, “Sis” memilih profesi ini yang sekarang menjadi profesi tetapnya. Masih banyak masyarakat menganggap pekerjaan ini berhubungan erat dengan hal-hal negatif tidak menggoyahkan bakat seni yang ada. “Sis” yang lebih sering menjalankan profesi sebagai artis tattoo di daerah Jembatan Mer, dengan hanya beralaskan karpet tipis. Anggapan tentang baik buruknya tattoo untuk kesehatan dilihat dari kondisi alat tattoo sebelum digunakan, dan kesiapan mental konsumen itu sendiri tidak kalah penting. Pendapat ini tidak beda jauh dengan “Awan” yang juga seorang artis tattoo dan mendalami profesi ini pada tahun 2002, studio tattoonya beralamatkan di Bendul Merisi I Utara / 27 Surabaya. “Awan” yang sempat menempuh sekolah khusus tattoo di Bandung juga menyebutkan baik buruk tattoo berada pada pra dan pasca tattoo, terutama saat proses penatoan, seperti jarum dsb. “awan” sangat yakin akan profesinya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya, “apalagi sekarang masyarakat sudah bisa menerima dan menjadi penggemar tattoo” menurutnya. Profesi ini berawal dari mendesain tattoo untuk temannya, dan membuat mereka percaya akan hasil desainnya. Untuk menjadi artis tattoo, modal dasar yang harus dimiliki adalah kebisaan menggambar.
DARI SUDUT PANDANG PARA PEMINAT TATTOO:
Anggapan-anggapan masyarakat tentang orang bertattoo sangat beragam, tapi untuk para konsumen tattoo atau penikmat tattoo itu bukan suatu ukuran bagi mereka untuk menghiasi tubuhnya dengan tattoo. Tidak hanya itu mereka berpendapat agar bisa mengekspresikan diri mereka. Rendy, 22 tahun, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, mempunyai tattoo sejak duduk di kelas dua SMA. “ karena saya ingin tubuh saya dijadikan kanvas hidup, dan ingin menjadi orang-orang minoritas”, jawab Rendy saat ditanya mengapa ingin dan efek setelah di tattoo. Selain itu dia juga ingin mengabadikan kisah hidupnya di bagian tubuhnya dengan tattoo, begitu juga dengan Jowy, 22 tahun, Graphic Designer,” karena, gambar yang saya tanamkan dalam tubuh saya memiliki arti dan juga filosofi yang ingin saya bawa sampai akhir hayat.” Jawab Jowy ketika diberi pertanyaan yang sama dengan Rendy. Jowy mengaku memiliki tattoo sejak lulus SMA, kesukaannya terhadap sesuatu yang mempunyai nilai seni membuatnya tertarik untuk membuat tattoo di tubuhnya, menurutnya tattoo adalah seni yang lain jika dibandingkan dengan seni yang lain, karena sebagian besar seni memakai media-media lain yang bisa dihapus atau diganti, sedangkan tattoo sangat sulit sekali untuk dihapus apalagi diganti medianya. Ketika ditanya kepedulian terhadap opini masyarakat terhadap orang yang bertattoo Jowy menjawab “ Relatif, kebanyakan peduli, tapi tergantung seberapa jauh orang lain yang berpendapat negative itu bisa diajak diskusi.” Dalam pendapatnya ini Jowy tetap menghargai perbedaan pendapat yang ada di masyarakat, antara yang pro dan kontra. Beda dengan pendapat Tunggul, 28 tahun, karyawan swasta, Tunggul lebih memilih tidak peduli dengan opini masyarakat yang ada. “Saya nggak peduli, selama hidup saya lurus-lurus saja dan tidak melakukan tindak criminal, saya tidak peduli.” Tunggul menghiasi tubuhnya sejak duduk di kelas satu SMA, saat itu dia hanya coba-coba mengabadikan kenangan, ekspresi dan di beranggapan,” setiap orang mempunyai kenangan yang berbeda, yang ingin di abadikan.” Mengekspresikan identitas, menjadi salah satu tujuan Tunggul memiliki tattoo, meskipun terlihat serupa pasti tak sama. Ketiga orang konsumen tattoo di atas memiliki pendapat yang sama ketika ditanya “ apa efek setelah di tattoo?”, secara garis besar mereka merasakan sakit, gatal tapi semua itu “ bikin nagih!”
DARI SUDUT PANDANG MASYARAKAT:
“ Tattoo!” Banyak perbedaan opini masyarakat tentang yang satu ini. Meskipun sudah banyak yang meyakini bahwa tattoo termasuk dalam seni, tapi itu tidak dapat menghapus pikiran masyarakat yang tidak menyukai tattoo, seperti Soedarji, 75 tahun, Tokoh Masyarakat, yang tetap beranggapan bahwa “ Saya tidak suka, orang bertatto lebih terkesan seperti penjahat, maling dan terkesan seperti preman atau orang nggak bener.” saat dimintai penilaian terhadap orang yang bertatto. Meskipun meyakini tattoo itu bagian dari seni gambar tapi Soedarji tetap dengan pemikirannya yang kontra terhadap tattoo. Lain halnya dengan Wulyoadi, 46 tahun, Karyawan Swasta, saat ditanya tentang penilaiannya terhadapa orang bertatto “ Biasa-biasa saja, karena bagi saya tattoo itu ekspresi orang-orang yang suka seni, tapi saya hanya suka melihat saja, apalagi sebagai seorang muslim tidak boleh memakai tattoo, karena tidak dapat sholat.” Selain itu, tattoo juga bisa menyebabkab penyebaran virus HIV. Wulyoadi termasuk masyarakat yang biasa-biasa saja dalam menanggapi tentang tattoo tersebut. Berbeda dengan Aryan JP,23 tahun, mahasiswa Film Maker (kameramen dan script writer) Unair’05, yang tertarik untuk memiliki tattoo di tubuhnya, “ senang melihat orang bertatto, berani mengekspresikan dirinya, yang paling penting berani sakit.” Penilaiannya terhadap orang bertattoo. Saat ditanya tentang adakah pengaruh tattoo terhadap kesehatan, “ Ada, tergantung alat yang dipakai dan prosesnya.” Pengaruh tattoo terhadap kesehatan, terletak pada kesterilan alat dan jenis tinta yang digunakan. Sebagian besar masyarakat sudah memahami bahwa tattoo termasuk dalam bagian seni hanya saja proses pembuatannya masih belum bisa dikatakan seni yang terkadang cenderung menyakiti diri sendiri.
Post Comment
Please Login to Post a Comment.
Ratings
Rating is available to Members only.
Please login or register to vote.
Please login or register to vote.
No Ratings have been Posted.



